February 2, 2017

10 Langkah Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
Bagi mereka yang sangat mendamba pasangan hidup namun belum kunjung juga menikah, menanti jodoh merupakan hal yang menyesakkan hati. Apalagi pada saat yang sama teman dan kenalan yang usianya dibawahnya telah mendahului dalam mendapatkan jodoh. Belum lagi undangan nikah silih berganti datang kerumah sementara kita sendiri tidak tahu kapan giliran memberikan undangan untuk orang lain.

Sebagai wujud kepedulian terhadap ikhtiyar pembaca dalam mencari jodoh. Dengan berbekal sedikit referensi dan sedikit pengalaman yang penulis dimiliki, berikut 10 langkah yang bisa dilakukan dalam menjemput jodoh.

Pertama : Evaluasi Motivasi Menikah. Setiap orang yang ingin menikah tentu memiliki motivasi yang berbeda-beda. Ada yang sekedar untuk merubah status dari jomblo menjadi belum menikah. Eh Maaf, menjadi sudah menikah. Tentu motivasi seperti ini sah-sah saja. Namun, jika motivasinya lebih dari sekedar itu, bisa jadi akan mendapatkan pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT. 

Setidaknya ada tiga motivasi besar seorang muslim / muslimah menikah.
  1. Untuk menghindarkan diri dari zina.
  2. Melahirkan generasi Islam yang sholeh dan sholehah.
  3. Agar bisa berpartisipasi membantu Rosulullah SAW dalam membanggakan jumlah umatnya di hadapan para nabi di yaumil akhir nanti.
Rasulullah SAW bersabda: “Kawinilah oleh kalian wanita penyayang lagi subur, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi yang lain pada hari Kiamat kelak” (HR. Ahmad) 

Jika ada seseorang yang mengajukan proposal kepada sebuah lembaga dengan latar belakang pembuatan proposal kurang kuat, bisa jadi tidak dikabulkan. Pun demikian halnya dengan motivasi menikah. Harapannya dengan motivasi yang kuat, Allah SWT mengambulkan harapan mendapatkan jodoh. 

Kedua : Pertimbangkan Ulang Standar Pasangan Idaman. Seorang menikah tentu memiliki standar kriteria yang diinginkan. Bukan sekedar wanita atau pria. Gelar, status sosial, usia, suku, penghasilan adalah beberapa kriteria yang dimiliki. Boleh-boleh saja memiliki kriteria yang seabrek. Namun, prinsip yang harus diingat adalah, “Semakin banyak dan ketat kriteria, maka semakin sulit dan kecil peluang mendapatkan jodoh yang diinginkan”.

Cukuplah kiranya pemahaman agama dan akhlaq yang bagus dijadikan sebagai kriteria utama yang tidak boleh ditawar-tawar. Adapun kemapanan ekonomi, tingkat pendidikan, dan lain sebagainya sebaiknya tidak dijadikan sebagai syarat ketat pasangan yang diidamkan.

Ada seorang teman yang belum mendapatkan jodoh. Ternyata salah satu penyebabnya dia mensyaratkan pasangannya haruslah sama-sama sarjana. Pada saat yang sama ada seorang yang bersedia menerima suami yang hanya lulusan pondok pesantren (setingkat SMP). Saat ini mereka hidup bahagia dengan memiliki banyak anak. Bahkan mereka berdua saat ini telah memiliki Yayasan Pendidikan di daerah Gresik – Jawa Timur. Tingginya pendidikan tidak menjadi syarat menggapai kebahagiaan, maka jangan dijadikan syarat yang ketat dalam memiliki pasangan.

Di dalam kitab an-Nidzomu al-Ijtima'iy Fil Islam (terjemah Sistem Pergaulan dalam Islam hal. 179) disebutkan, “Adapun masalah Kafaa’ah (Kesederajatan atau kesetaraan) antara suami dan isteri, hal itu tidak ada dasarnya sama sekali, kecuali dalam sejumlah hadits palsu. Al-Quran al-Karim sendiri menolaknya, begitu pula sejumlah hadits sahih. Maka, setiap wanita Muslimah pada dasarnya pantas untuk pria Muslim manapun. Berbagai perbedaan antara pria dan wanita dalam masalah harta, pekerjaan, garis keturunan, atau yang lainnya, tidak ada nilainya sama sekali.”

Ketiga : Mapankan Ekonomi.  
Tidak dipungkiri secara umum seorang laki-laki yang memiliki pekerjaan lebih diminati oleh seorang wanita. Pun sebaliknya. Maka bagi mereka yang belum memiliki penghasilan hendaknya lebih semangat lagi dalam mencari nafkah. Setidaknya untuk mencukupi kebutuhan primer dan sebagian kebutuhan sekunder pasangan hidupnya. 

Keempat : Keluarga Membantu Memperbaiki Status Sosial.  
Menikah bukan hanya menyatukan dua individu, melainkan juga menyatukan dua keluarga. Ada kalanya seorang pria tidak jadi meminang seorang wanita setelah mengetahui bahwa keluarganya berasal dari keluarga yang rusak. Atau sebaliknya. Maka kiranya bagi keluarga yang memiliki anak yang belum menikah agar memperbaiki reputasi keluarganya di lingkungan masyarakat.

Kelima: Tingkatkan Penampilan Diri.  
Rupawan atau tidak adalah Takdir Allah SWT. Namun, menjaga kebersihan wajah dan badan, menjaga kerapihan pakaian dan penampilan adalah pilihan kita. Wajah yang tidak rupawan dan fisik yang biasa saja dibarengi dengan senantiasa rapih dan bersih tentu akan meningkatkan daya tawar. 

Disamping menjaga kebersihan dan penampilan, hal lain yang perlu dilakukan adalah dengan memperbanyak hafalan ayat dan hadits. Orang yang memiliki banyak hafalan ayat dan hadits memiliki aura yang berbeda dengan orang yang sedikit atau tidak memiliki hafalan sama sekali. Bukankah Rosulullah SAW bersabada, “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits shahih dan mutawatir; diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 4890), dan imam-imam lainnya.

Keenam : Perbaiki Pemahaman Agama.  
Disamping merupakan suatu kewajiban, memperbaiki pemahaman agama merupakan langkah efektif untuk mendapatkan jodoh. Bahkan boleh dibilang ini merupakan salah satu langkah yang paling penting dan utama.

Point ketiga, keempat, kelima dan keenam ini didasarkan pada hadits mulia Rosulullah SAW. “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung” (Muttafaq ‘Alayhi dari Abu Hurayrah RA)

Ketujuh : Selektif dalam Memilih Teman dan Lingkungan Pergaulan
Seringnya seseorang bergaul dalam lingkungan yang tidak baik. Pergaulan bebas, pakaian kusam nan tidak terurus. Senantiasa nongkrong dipinggir jalan. Bergaul dengan orang yang tidak peduli dengan sholat dan ibadah, tentu akan menjadikan calon-calon mertua mencoret dari daftar calon menantu yang diidamkan. Oleh karena itu kiranya perlu untuk melakukan seleksi terhadap teman dan lingkungan pergaulan. Hanya teman yang berakhlaq baik dan lingkungan yang baik pula yang kemudian kita pilih. 

Kedelapan : Tidak Perlu Malu untuk Meminta Bantuan Orang Lain Mencarikan Jodoh. Meminta bantuan orang tua untuk mencarikan jodoh bukanlah aib. Orang tua dengan pengalamannya memiliki relasi yang lebih luas dibandingkan dengan sang anak. Tidak jarang terjadi seorang wanita bisa mendapatkan jodoh karena usaha keras dari orang tua dalam mencarikan jodoh.
Orang lain yang perlu dimintai bantuan dalam mencari jodoh adalah seorang Ustadz. Saya pribadi melakukan langkah ini dan alhamdulillah berhasil. Ustadz yang memiliki jamaah dan kenalan yang luas, bisa diharap bantuannya dalam memilihkan jodoh yang ideal.

Kesembilan : Perbanyak membantu orang lain.
Dari Abu Hurairah RA dia berkata : RasuluLlah Shallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari Kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebabnya) di DUNIA dan di akhirat” [Shahih, HR. Muslim no. 2699]

Cukuplah kiranya hadits tersebut menjadi dasar langkah kesembilan ini. Semoga dengan banyak membantu orang lain Allah akan meringakan beban di akherat dan juga di dunia. Beban belum memiliki jodoh di antaranya.
Membantu anak yatim dan kaum dhuafa bisa menjadi prioritas dalam membantu orang lain. 

Kesepuluh : Dahsyatkan Kekuatan Doa. Banyak sekali buku yang mengupas bagaimana agar doa memiliki kekuatan yang dahsyat. Kalau boleh disederhakan kekuatan doa bertumpu kepada tiga hal. Waktu yang mustajab, tempat yang mustajab dan kondisi orang yang berdoa. Mengenai waktu, usai sholat fardlu, di sepertiga malam, di saat menjelang berbuka puasa (baik wajib maupun sunnah) adalah di antara waktu yang mustajab. Berdoa di masjid, baitullah, tempat yang suci adalah di antara tempat yang mustajab. Adapun kehalalan makanan, ketakwaan individu dan keyakinan terkabulnya doa merupakan diantara faktor yang bisa mendahsyatkan kekuatan doa dari sisi internal orang yang berdoa. 

Untuk mengingkatkan keyakinan akan terkabulnya doa, silahkan baca dan resapi firman Allah SWT dalam QS Maryam [19] : 1-9 dan QS Sad [38]: ayat 79-80.

Dalam QS Maryam ayat 1-9 Allah SWT mengabulkan doa Zakaria untuk mendapatkan keturunan meski usianya telah lanjut dan istrinya pun mandul. Adapun QS Sad [38] ayat 79-80 memberikan pelajaran kepada kita betapa Allah SWT pernah mengabulkan keinginan Iblis untuk ditangguhkan. Pada iblis merupakan makhluk terkutuk, ternyata Allah SWT berkenan memenuhi permintaan tersebut. InsyaAllah sebanyak apapun dosa kita, asalkan masih beriman kepada Allah SWT dan Rosulnya, masih jauh lebih mulya dari Iblis. Artinya peluang untuk dikabulkan doa masih sangat terbuka.

Semoga kesepuluh langkah ini bisa membantu pembaca dalam mendapatkan jodoh yang diidamkan. Aamiin Ya Robbal 'Alamiin. []Mabsus Abu Fatih

January 14, 2017

Pengakuan Jujur Pemikir Barat tentang Rosulullah SAW


Seorang Filosof Inggris, George Bernard Shaw[1] sebagaimana dikutip oleh  Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy[2] dalam bukunya Manusia Teragung Sepanjang Masa Muhammad SAW[3] yang bersumber pada buku Hadharah al-Arab karangan Gustave Le Bon menyatakan, “Aku telah membaca kehidupan Rasul Islam dengan baik, berkali-kali dan berkali-kali, dan aku tidak menemukan kecuali akhlak-akhlak luhur yang semestinya, dan aku sangat berharap Islam menjadi jalan bagi dunia”

January 13, 2017

Suami Terbaik Menurut RasuluLlah

Suami terbaik merupakan predikat yang ingin diraih setiap suami. Hal ini dikarenakan Rosulullah SAW pernah besabda, [Akmalu al-mu’minîna îmânan akhsanuhum khuluqon, wa Khiyârukum khiyârukum li nisâihim] artinya “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. (HR Tirmidzi, Abu Daud [Hasan Shahih]).

Lantas, seperti apakah suami yang terbaik itu? Berikut penjelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Pertama, Suami terbaik adalah RosuluLlah dan yang mencontoh RosuluLlah SAW

Telah bersabda RasuluLlah saw, [Khoirukum khoirukum li ahlihi wa anâ khoirukum] artinya “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri.” (HR. Thabrani, Tirmidzi [Shahih])

Jadi, suami terbaik adalah suami yang meniru Rosulullah SAW dalam berumah tangga. Di sinilah perlunya para suami untuk mempelajari perilaku Rosulullah SAW dalam berumah tangga. Baik melalui kajian hadits, kajian Siroh Nabawiyah maupun kajian Islam lainnya. Sulit rasanya ingin menjadi suami yang terbaik, sementara dia sendiri tidak pernah mendalami bagaimana sang suami terbaik sejati –yaitu RosuluLlah SAW- memperlakukan istri-istri beliau dalam kehidupan rumah tangga.

Kedua, Suami Terbaik Tidak menghinakan Istri.

Suami yang terbaik adalah suami yang tidak menghinakan istri. Dalam kehidupan rumah tangga, yang namanya permasalahan pasti akan dialami oleh siapapun. Dalam kondisi suami mengalami masalah dengan istri tidak sepatutnya kemudian menghinakan istri baik dengan perkataan maupun perbuatan. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallalhu ‘alaihi wa sallam: [Mâ akroma annisâa illâ karîmun wa mâ ahânahunna illâ laîmun] artinya “Tidaklah memuliakan perempuan kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan perempuan kecuali orang yang keji” (HR Ibnu Asakir)

Kedua hal ini setidaknya yang harus dimiliki oleh mereka yang mendamba predikat sebagai suami terbaik. Tentu predikat di hadapan Allah SWT.

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk menjadi suami yang baik bagi istri kita.

Aamîn Yâ Robal Âlamîn. []Mabsus AF

January 12, 2017

Agar Nasehat Orang Tua Berpengaruh Pada Anak

Sebagai orang tua, tentulah kita menginginkan anak-anak kita menjadi pribadi yang baik dikemudian hari. Menginginkan mereka menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, juga taat dan patuh pada aturan agama. Hal ini tentu tidak secara spontan terjadi begitu saja, ada peran kita selaku orang tua dalam membentuk kepribadian anak-anak kita. Kitalah yang bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi kepada anak kita dikemudian hari.
Oleh karenanya para orang tua mesti memperhatikan perilakunya dihadapan anak. Karena, bagi anak-anak kita orang tua mereka adalah sosok yang ditauladani. Mereka cenderung melakukan apa yang mereka lihat dari sikap kita dihadapan mereka dibanding dengan ucapan yang keluar dari lisan kita. Dr Muhammad Muhammad Badri dalam bukunya ‘Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita’ mengatakan;

January 3, 2017

Inilah Teguran Untuk Khalifah Harun Ar-Rasyid

oleh : Mustaqim Abu Jihad

Anak adalah anugerah. Kehadirannya laksana buah yang dinanti pada saat musim panen tiba. Alangkah indahnya hidup berkeluarga ketika Allah Ta’ala memberikan amanah berupa buah hati yang tumbuh ditengah-tengah kita. Namun, ketika Allah Ta’ala sudah memberikannya terkadang kita lalai dalam membersamai buah hati kita. Kita justru lebih sering tersibukan dengan kerjaan diluar sana dan mengabaikan kerja kebaikan dalam rumah tangga.
Seringnya, anak-anak kita hanya mendapatkan jatah sisa dari waktu yang kita punya. Seringnya, anak-anak kita hanya dianggap sebagai pelengkap dalam keluarga, bukan pokok utama yang mesti disemai dengan cinta dan kasih sayang. Lelah, menjadi alasan klasik untuk para orangtua enggan membersamai anaknya ketika di rumah. Letih, kadang menjadi hambatan orang tua untuk mendengarkan celoteh buah hatinya.